Mengapa Bulu Tangkis Kurang Populer di Barat?

Sumber: Wikimedia Commons (Lisensi Creative Commons)

Jika kita berbicara bulu tangkis, maka yang terlintas di benak kita adalah China, Indonesia, Jepang, dan negara Asia lainnya. Apa yang kita pikirkan tentang hal itu tidak lain karena olahraga ini didominasi oleh negara-negara Asia.

Jika pun kita menyebut Eropa, hanya ada satu negara yang masuk dominasi bulu tangkis di dunia, yaitu Denmark. Dapat dibilang Denmark (juga Spanyol dan Inggris)-lah yang menyamarkan bulu tangkis bukan olahraga Asia sepenuhnya.

Mengapa Spanyol dimasukkan? Dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis tahun 2018 yang berlangsung di Nanjing, China, tunggal putri asal Spanyol, Carolina Marin berhasil menciptakan sejarah sebagai pebu lutangkis pertama dengan tiga gelar juara dunia di sektornya.

Marin berhasil menjuarai kejuaraan dunia bulu tangkis sebanyak 3 kali dan itu belum pernah terjadi sebelumnya di sektor tunggal putri. Marin merebut medali emas pada kejuaraan tertinggi bulu tangkis tersebut pada tahun 2014 di Copenhagen, Denmrak, 2015 di Jakarta, Indonesia, dan 2018 di Nanjing, China.

Selain itu, Marin juga berhasil menjadi tunggal putri Eropa pertama yang menyabet medali emas di Olimpiade Rio 2016. Hal itu sungguh mengejutkan (terutama publik Eropa) karena dia mampu menjegal dominasi Asia terutama China di bulu tangkis tunggal putri.

Di babak final Marin sukses menggasak wakil India, Pusarla V. Shindu dengan bermain rubber (19-21, 21-12, 21-15). Wakil Eropa lain yang sebelumnya pernah menyabet medali emas olimpiade cabang bulu tangkis adalah Poul-Erik Høyer Larsen. Larsen adalah pemain tunggal putra asal Denmark dan menjadi juara di Olimpiade Atlanta, Georgia tahun 1996.

Kembali lagi ke bahasan utama, walau pun wakil-wakil dari Eropa masih memberikan warna di setiap turnamen bulu tangkis internasional, maka hal yang berbeda justru datang dari wilayah Amerika terutama Amerika Serikat.

Jika di beberapa dekade yang lalu nama-nama pebulu tangkis dari negeri Paman Sam masih sering mengisi draw pertandingan, sekarang sudah sangat jarang. Jika pun ada wakilnya diisi oleh pebulu tangkis kelahiran negara lain seperti Zhang Beiwen (kelahiran Liaoning, China) atau mereka yang sebelumnya bermain bagi negaranya masing masing dan pindah mewakili Amerika Serikat.

Lalu mengapa hal tersebut bisa terjadi? Berikut kemungkinan jawabannya.

Hadiah yang Tidak Terlalu Besar

Jika dibandingkan dengan jumlah hadiah yang ditawarkan oleh tenis yang populer di negara-negara Barat, para pemain bulu tangkis harus memperebutkan jumlah hadiah yang terbilang sedikit.

Sebagai contoh, turnamen US Open (bulu tangkis) tahun 2018 hanya memiliki total hadiah uang sebanyak US$150.000 (atau Rp 2,1 miliar kurs 14.000) sedangkan US Open (tenis) di tahun yang sama menawarkan hadiah yang sangat besar yaitu $53 juta (sekitar Rp 742 miliar).

Ketika dibagi-bagi tentunya atlet tenis akan mendapatkan nilai yang lebih besar walau kalah di babak pertama (terutama bagi pemain tunggal). Lihat tabel di bawah:

Untuk perbandingan lainnya adalah hadiah di kejuaraan Wimbledon (tenis) dan All England (bulu tangkis) yang sama-sama digelar di Inggris (tahun 2018).

Mengapa hadiah tenis bisa begitu besar? Ini salah satunya bisa disebabkan karena adanya kecenderungan kalau tenis adalah olahraga elit. Umumnya yang menjadi sponsor pertandingan-pertandingan tenis di seluruh dunia adalah perusahaan-perusahaan besar.

Perkembangan tenis juga lebih merata dibanding bulu tangkis. Meski pemain-pemain Eropa, Amerika, Australia lebih sering mengisi draw pertandingan, tapi di Asia tenis memiliki basis yang cukup besar, khususnya di kalangan menengah ke atas.

Hadiah yang tidak terlalu besar yang ditawarkan dalam setiap turnamen bulu tangkis bisa jadi sebab olahraga ini kurang dilirik di negara Barat, sehingga banyak orang memutuskan untuk menjadi atlet olahraga yang menawarkan hadiah yang lebih besar dan karir yang lebih panjang.

Jika kita cek dari awal abad ke 20 hingga sekarang ini jumlah atlet bulu tangkis dari negara-negara Barat mengalami penurunan dan mereka yang juara dalam setiap pertandingan mayoritas dari Asia. Namun BWF terus bekerja untuk mempopulerkan bulu tangkis di luar Asia.

Pembinaan yang Buruk dan Tanpa Dukungan Pemerintah

Di Indonesia, China, Malaysia, Thailand, dan beberapa negara Asia lain, pemerintah sangat mendukung perkembangan olahraga ini. Ini didukung oleh banyaknya sponsor dari perusahaan-perusahaan lokal, membuat bulu tangkis terus berkembang maju.

Hal sebaliknya terjadi di Barat. Denmark mungkin punya sistem klub yang maju sehingga pemain bulu tangkis mereka masih bisa bersaing di kancah dunia.

Dilansir dari media Denmark The Local, ada beberapa hal yang membuat bulu tangkis di negara ini maju. Pertama mereka memiliki struktur klub, yang tidak biasa bahkan dalam konteks Eropa.

Ada banyak klub bulu tangkis lokal di seluruh Denmark sehingga sangat mudah untuk bermain sebagai anak muda dan mereka memiliki feeder anak-anak yang ingin bermain. Cuaca musim dingin Denmark juga membantu karena suhu beku memaksa orang-orang untuk berolahraga di dalam ruangan dan bulu tangkis salah satu pilihan terbaik.

Hal kedua adalah Denmark berhasil mendirikan pusat pelatihan nasional di Kopenhagen di mana semua pemain terbaik bertemu untuk latihan harian di bawah empat pelatih. Berkumpulkan pemain terbaik di satu tempat membuat kegiatan sparring bulu tangkis membuahkan hasil yang nyata.

Kedua hal itu membuat Denmark menjadi satu-satunya kekuatan bulu tangkis dunia asal Eropa yang mampu menjegal banyak pemain Asia di turnamen-turnamen internasional.

Sayangnya sistem pengembangan bulu tangkis Denmark ini tidak dimiliki oleh negara-negara Eropa lain. Tidak sedikit pemain-pemain bulu tangkis unggulan dari beberapa negara Eropa yang memutuskan berkarir secara profesional karena kondisi tertentu, salah satunya masalah (seperti sponsor) dengan asosiasi bulu tangkis setempat.

Ini mengakibatkan generasi mudanya sulit berkembang karena mereka tidak punya lawan sparring yang kuat dan berpengalaman. Jadi, sparring dalam latihan bulu tangkis itu sangat penting karena pemain muda bisa belajar banyak dari lawan sparring yang sudah berpengalaman.

Jika negara-negara Eropa lain bisa mengadopsi model pembinaan bulu tangkis a la Denmark ini, mereka mungkin bisa menjadi kekuatan bulu tangkis dunia yang barus. Sayangnya tidak mudah bagi siapa saja untuk meng-copy sebuah budaya.

Sengitnya Persaingan

Sebagaimana kita ketahui bahwa negara-negara di Asia (terutama Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan) sangat mendominasi bulu tangkis. Bahkan ada yang menyebut kalau bulu tangkis adalah olahraga Asia.

Di Asia pun setiap atlet harus bersaing ketat. China yang dulu sangat merajai olahraga ini kini sedikit demi sedikit tergeser oleh atlet dari negara Asia lain, terutama Jepang.

Dikuasainya bulu tangkis oleh bangsa Asia bisa dikarenakan oleh pembinaannya yang kuat serta dukungan (dana) yang besar dari pemerintah untuk terus mengembangkan olahraga ini.

Hal ini mungkin tidak terjadi di sebagian negara Barat sehingga menyebabkan perkembangan olahraga ini berjalan stagnan. Selain itu, pemerintah di sana lebih fokus mengembangkan olahraga-olahraga yang lebih populer dan menghasilkan medali di olimpiade.

Mungkin itulah sedikit alasan mengapa olahraga bulu tangkis menjadi kurang populer di negara-negara Barat. Tulisan dibuat atas dasar berita-berita yang sudah lama beredar ditambah sedikit opini penulis yang menyukai dan sering mengikuti pemberitaan olahraga ini di media masa.

Tags:

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed