Bulu Tangkis: Krisis Tunggal dan Ganda Putra di China

China adalah raksasa bulu tangkis sejak lama. Namun dominasi China kini sudah tergerus sebagai akibat perkembangan bulu tangkis yang bagus di sejumlah negara, khususnya Jepang.

Ada dua nomor yang bisa dikatakan krisis dalam bulu tangkis China, yaitu tunggal putra dan ganda putra. Sedangkan tiga nomor lainnya bisa dibilang aman dan kekuatan China di sana masih cukup besar.

China adalah gudangnya tunggal putra hebat sejak masa keemasan tunggal putra Indonesia berakhir. Sebut saja salah satunya Lin Dan yang disebut-sebut sebagai pemain bulu tangkis terhebat sepanjang sejarah.

Lin Dan adalah peraih dua medali emas Olimpiade (2008, 2012) dan lima kali juara dunia. Ini merupakan pencapaian paling tinggi di nomor tunggal putra sejak awal mula Kejuaraan Dunia BWF tahun 1973 dan Olimpiade tahun 1992.

Chen Long adalah pemain yang membayang-bayangi kesuksesan Lin Dan di dunia bulu tangkis. Meski tidak mampu menyamai, Chen Long tetap dianggap salah satu pemain bulu tangkis terhebat di abad ke-21. Pencapaian tertingginya adalah empat medali Kejuaraan Dunia (2 emas dan 2 perunggu) dan tiga medali Olimpiade (1 emas, 1 perak, 1 perunggu).

Sayangnya kesuksesan Lin Dan dan Chen Long seperti kurang membayangi pemain generasi baru di China. Shi Yuqi mungkin penerus terdekat. Tapi gaungnya kurang terdengar keras sejak ia menjuarai turnamen akhir musim BWF World Tour Finals 2018.

Sejak Momota kembali ke lapangan setelah hukuman akibat judi ilegal, ia mendominasi turnamen-turnamen BWF sepanjang 2018 dan 2019. Namun setelah ia mendapat musibah di awal tahun 2020, performanya saat kembali ke lapangan masih belum pulih sepenuhnya.

Tanpa menyianyiakan kesempatan, rival Momota Viktor Axelsen langsung tancap gas menjadi tunggal putra terbaik hingga saat ini. Bahkan ia berhasil menjadi juara Olimpiade Tokyo 2020 setelah mengalahkan Chen Long di babak final.

Kembali ke Shi Yuqi, ia tidak terlihat di sepanjang turnamen 2022 yang mulai digelar secara normal—penonton boleh menonton langsung di stadion dengan protokol kesehatan yang berlaku di negara masing-masing. Ternyata penyebab Shi Yuqi absen di turnamen-turnamen 2022 adalah karena ia mendapatkan sanksi dari Asosiasi Bulu Tangkis China (CBA).

Mengapa Shi Yuqi disanksi? Penyebabnya adalah ia dinilai tidak menunjukkan sportivitas saat melawan Kento Momota di Piala Thomas 2020 di Aarhus, Denmark. Dilansir dari BadmintonPlanet.com, Shi Yuqi diberi hukuman berupa larangan bermain selama satu tahun akibat ulahnya dengan memilih mundur setelah tertinggal 5-20 melawan Kento Momota di semifinal Piala Thomas 2020 antara China dan Jepang.

Setelah pertandingan, Shi Yuqi diwawancara oleh jurnalis asal Denmark dan dia memberi jawaban yang kurang dewasa setelah ditanya mengapa ia mundur saat melawan Momota. Jawaban Shi Yuqi kala itu berbunyi “Baik, jika dia (Momota) masih berada pada poin ke-20, itu artinya saya tidak kalah.”

Di hari berikutnya, Shi Yuqi mendapatkan kritikan di media sosialnya dan berakhir dengan penjelasan panjang mengapa ia memilih mundur saat itu. Dan karena ulahnya tersebut, ia CBA melarang Shi Yuqi untuk bermain selama satu tahun dan ia tidak dimasukkan ke dalam squad bulu tangkis China di Piala Thomas 2022.

Tbc… 

Tags:

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed